Sabtu, 08 Januari 2011

Budaya Indonesia




Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Kebudayaan nasional
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:
“
Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199
”
kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”
Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.
Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan,
Wujud kebudayaan daerah di Indonesia
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap saerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda.


Rumah gadang, rumah adat sumatera barat

Tarian

Tarian Pakarena di pulau Selayar di masa Hindia Belanda

Tari jaipong, Tarian daerah Jawa Barat

Lagu
Musik
Alat musik

Gamelan
Gambar
Patung
Pakaian
Suara
  • Jawa: Sinden.
  • Sumatra: Tukang cerita.
  • Talibun : (Sibolga, Sumatera Utara)

Sastra/tulisan
Makanan
Kebudayaan Modern Khas Indonesia
Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia

Jumat, 07 Januari 2011

Pura-pura yang Negatif dan yang Positif


Negatif
Berpura-pura tidak selalu memberikan efek positif dan baik bagi diri kita. Kita mungkin berpura-pura ketakutan dengan harapan akan mendapat perlindungan dari orang yang berarti bagi kita. Mungkin saja kita akan berhasil, tetapi tentu saja perolehan itu sifatnya sangat rentan serta kurang kuat akar penyangganya. Mengapa ? karena sikap berpura-pura membutuhkan energi psikis berlanjut yang akhirnya juga melelahkan diri kita sendiri.
Memang pura-pura dapat menghindarkan diri kita dari rasa cemas melihat realitas. Misalnya, sebenarnya relasi kita dengan pasangan kita tak sebaik yang kita jalani, tetapi kita berpura-pura seolah relasi yang terjalin begitu manis. Sikap pura-pura seperti itu sebenarnya manifestasi dari ketakutan kita mengakui kenyataan atas relasi yang buruk dengan pasangan kita karena kenyataan tersebut biasanya membuat diri kita merasa terpuruk dan tidak nyaman. Terkadang kita juga berharap, dengan bersikap seolah tidak terjadi suatu yang negatif, dapat mencegah kemungkinan menajamnya konflik yang memicu semakin memburuknya relasi dengan pasangan kita.
Cara berpura-pura tersebut di atas adalah pura-pura yang negatif sebab sikap tersebut akan membuat energi kehidupan kita semakin hari semakin melemah. Melemahnya energi kehidupan kita akan membatasi potensi kita untuk melakukan ekspansi positif bagi peningkatan kualitas hidup kita. Saat berpura-pura, sebenarnya kita menyertakan aksi pengorbanan diri yang salah dan terus-menerus harus membohongi orang lain dan bahkan membohongi serta mengkhianati diri kita sendiri.
Positif
                Sebaliknya, pura-pura yang canggih akan membuat kita terlepas dari suatu relasi yang monoton, membosankan, karena selalu harus mengulang topik percakapan yang terbatas. Dalam relasi intim dengan pasangan kita, bersikap pura-pura yang positif dapat memfaslitasi menguaknya ketajaman akan kesadaran diri karena kita memberikan reaksi yang lain daripada biasanya.
Misalnya, dengan berpura-pura suka akan perubahan perilaku pasangan, kita akan mendapatkan fakta nyata akan kejujuran pasangan kita. Kecuali itu, saat mengawali sikap pura-pura yang positif, kita sekaligus melakukan ekssperimen guna meningkatkan kualitas pengalaman kita, baik tentang diri sendiri maupun diri pasangan kita.
                Pura-pura akan mengarahkan kita pada penemuan kebenaran yang baru dan membantu kita tidak hanya dengan menemukan sesuatu yang baru, melainkan juga dapat mengambil keputusan yang tepat bagi diri sendiri dan pasangan kita. Contohnya, saat berada di tepi kolam renang yang dalam dan kita berpura-pura berani melompat ke kolam tersebut, akhirnya kita pun benar-benar menjadi berani melompat ke kolam.
                Begitu pula halnya dengan pasangan kita, misalnya dia berpura-pura menjadi laki-laki matang yang berani bertanggung jawab, maka pasangan kita akan memusatkan konsentrasinya kepada diri sendiri dan serta merta akan mendapatkan dirinya ternyata memiliki kompetensi sebagai pria matang yang selama ini tidak dia rasakan. Jadi, pura-pura yang canggih akan membantu kita melakukan ekspansi terhadap apa yang nyata dan benar tentang diri kita sendiri dan relasi kita dengan pasangan kita.
Trik
                Ada trik melepaskan diri dari kebiasaan pura-pura yang negatif :
“Ibu, saya jenuh, capek, kesepian, dan jengkel karena setiap ada masalah dalam keluarga, mereka selalu meminta bantuan saya. Sejak menjadi mahasiswa psikologi, saya berpura-pura seolah saya mandiri dan mantap sehingga saya terpojok dalam peran sebagai seseorang yang punya kewajiban untuk mendengarkan persoalan mereka. Mereka tidak pernah mau tahu bahwa saya juga manusia biasa yang membutuhkan mereka untuk mau menjadi tempat saya berkeluh kesah. Reaksi mereka saat saya mulai ingin bercerita tentang kesulitan saya adalah selalu memotong pembicaraan saya dan mereka mulai lagi dengan keluhan mereka. Apalagi adik saya, yang menikah dini, baru tiga bulan ini bercerai, dia terus menyita waktu saya dengan keluhan tentang L, mantan suaminya. Dia merasa, sebagai kakaknya, saya harus mengayomi dirinya dan harus selalu siap mendengarkan keluh kesahnya.”  (T, 25 tahun)
Rasa jenuh, capek, kesepian, dan jengkel pada T adalah efek negatif dari pura-pura kuat, tentu saja kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlanjut. Seyogianya, pada suatu saat T harus mengungkapkan terus terang kepada adiknya, L, misalnya, bahwa dia pun membutuhkan L untuk mendengarkan keluhannya dan berbagi cerita tentang pengalamannya yang tak menyenangkan di kantor tempat L bekerja.
Biasanya, L akan memotong pembicaraan T dengan mengungkapkan lagi tentang perilaku buruk mantan suaminya. Untuk itu, T hendaknya berani menyatakan bahwa “cukup sudah kamu bicara tentang kelakuan mantan suamimu, sekarang saya membutuhkan kamu untuk mendengarkan keluhan saya. Saya juga butuh pendapatmu.”
Perubahan sikap L pasti membutuhkan waktu, tetapi dengan cara tersebut, pelan tetapi pasti, T akan segera melepas sikap pura-pura yang selama ini membuat dirinya lelah, capek, jenuh, dan jengkel . 

Sumber : KORAN KOMPAS

SENAM OTAK (PSIKOLOGI)


Saya jadi teringat kepada anak saya yang saya ajarkan melakukan suatu gerakan tertentu yang mengandung makna tertentu pula sebagai usaha pengingat agar otak tidak mudah lupa terhadap apa yang kita yakini benar dan harus dilaksanakan setiap hari. Saya mengajarkan gerakan tertentu berdasarkan pelatihan yang saya dapatkan secara massal antara lain :
1.       Berdiri tegak : fokus pada tujuan
2.       Gerakan berserah diri : melatih kesetiaan dan keyakinan pada sang Pencipta
3.       Gerakan tunduk syukur : melatih rasa rendah hati (respek/hormat)
4.       Melangkah berbalik arah : mengubah sudut pandang (menjadi bijak)
Pertanyaan :
1.       Apakah ada referensi ilmiah yang menyatakan bahwa melakukan suatu gerakan yang diulang-ulang setiap hari dengan memberikan makna sesuatu itu bisa menjadi sarana agar tidak mudah dilupakan (agar bisa konsisten antara ilmu, kata, dan perbuatan) ?
2.       Andaikan ada referensinya, bagaimana logikanya : gerakan yang diulang-ulang dan diberi makna itu dapat berpengaruh pada jiwa atau karakter atau pembentukan moral positif seseorang ? Efektifkah gerakan itu bila dilakukan menjadi kebiasaan ssetiap hari oleh setiap orang ?
3.       Bagaimana peranan otak kanan dalam memengaruhi moral yang dikaitkan dengan melakukan gerakan senam otak ?
Jawaban :
                Sebenarnya saya belum mengetahui tentang berbagai gerakan dan makna nilai moralnya dalam pertanyaan diatas. Namun, saya pernah mengikuti pelatihan senam otak yang mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan.
                Dalam ilmu psikologi, bila suatu hal, tidak hanya terbatas pada gerakan, tetapi juga sikap ataupun perilaku, apabila terus diulang-ulang dan dikaitkan dengan makna tertentu, terutama bila disertai dengan pemberian reward atau penguat kepada seseorang, pasti akan menjadi kebiasaan yang menetap dan tak mudah hilang. Pendekatan psikologis yang membahas hal ini disebut Psikologi Belajar (aliran behaviouristic). Pembahasan ini terdapat di dalam buku-buku psikologi praktis, tetapi tetap mempunyai kadar ilmiah.
                Mengenai pertanyaan untuk memahami logika hubungan antara gerakan dan pembentukan moral atau perilaku tertentu, saya ingin mengaitkan dengan suatu program belajar yang dikenal dengan istilah brain gym (senam otak). Tokohnya adalah pasangan suami istri paul dan Gail Dennison. Mereka menciptakan proses Edu-Kinesthetics (Edu-K) dan Brain Gym serta perintis penelitian otak. Penemuannya didasarkan atas pengetahuan tentang hubungan yang erat antara perkembangan fisik, pemahaman bahasa, kemahiran berkomunikasi, dan prestasi akademik.
                Dari salah satu buku mereka : Brain Gym ®101, Untuk Kehidupan yang Seimbang, diterjemahkan oleh Elisabeth Demuth (2008), dijelaskan bahwa bidang Edu-K, yang mempelajari gerakan-gerakan dan kaitannya dengan proses belajar, telah menunjukkan bahwa ketika jaringan saraf untuk gerak diaktifkan, maka jaringan ini akan mengaktifkan dan menghubungkan keseluruhan otak secara senergis, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perubahan seseorang.
                Dalam Edu-K, gerakan tertentu dikaitkan dengan keterampilan yang dapat diterapkan pada aspek kognisi dan perilaku. Jadi, hidup itu harus bergerak, gerakan adalah pintu belajar. Ada 26 gerakan brain gym yaang dirancang untuk mengaktiffkan berbagai fungsi kognitif, termasuk melihat, mendengar, memahami, mengorganisasi, dan berkomunikasi. Buku mereka telah diterjemahkan dalam banyak bahasa dan dipraktikkan di berbagai negara.
                Bila berminat lebih lanjut, silakan mengunjungi www.braingym.org. Dari penelitian yang telah mereka lakukan, aktivitas brain gym terbukti mampu mengajarkan keterampilan fisik yang dibutuhkan untuk keberhasilan akademis dan kehidupan yang seimbang. Menurut saya sangat mungkin prnsip-prinsip dari gerakan yang telah Anda pelajari dan ajarkan itu tidak berbeda jauh dengan prinsip dari senam otak. Hanya masih perlu pembuktian lebih lanjut.
Peran Otak Kanan
                Mengenai peranan otak kanan yang memengaruhi moral dalam kaitan dengan senam otak, sebenarnya menurut sayakedua belahan otak, yaitu kiri dan kanan, sama pentingnya. Kita telah paham bahwa belahan otak kiri berkaitan dengan logika, analisis, bahasa, sistematika, dan matematika. Sementara otak kanan berkaitan dengan emosi, imajinasi, dan kreatifitas sehingga akan berfungsi jika seseorang bermain, berolahraga, dan melakukan aktivitas motorik lainnya, yang diantaranya dapat dilakukan melalui senam otak.
                Dengan begitu, kita tak hanya menggunakan otak kiri yang berfungsi untuk menganalisis, membahas, dan memutuskan, tetapi juga mampu menghayati secara afeksional berbagai nilai moral yang sedang ditanamkan. Dengan mengaktifkan kerja sama antara kedua belahan otak secara seimbang, tentunya akan diperoleh hasil yang lebih maksimal.
                Tak ada salahnya Anda terus mencoba mengajarkan gerakan-gerakan yang tentunya juga ada filosofi dan penjelasan dari pengajarnya, kemudian mengamati dan bila mungkin melakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah gerakan dan makna tersebut efektif dalam membantu penanaman nilai moral pada anggota keluarga. Tentunya dengan tidak melupakan pemberian teladan dari tindak tanduk kita sehari-hari pula.

sumber : KORAN KOMPAS